Kamis, 18 Agustus 2011

Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri

                        Judul : 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari dengan Otak Kanan
Penulis : Ippho Santosa
Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2010
ISBN : 978-979-27-6923-4

Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’ dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56)

Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing.

Dengan pledoi itu, Ippho sedang ingin mengetengahkan kehadapan pembaca bukunya, mengenai sebuah konsep berpikir dan bertindak dengan mengutamakan fungsi otak kanan. Ippho mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit motivator di Indonesia yang memilih untuk berpihak ke kanan (mengutamakan otak kanan). Bahkan ia berani mengatakan bahwa untuk hijrah ke sisi kanan dalam Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, maka otak kanan harus diasah. Ippho berkeyakinan bahwa kesuksesan memerlukan peranan EQ(otak kanan) sekitar 80% dan IQ(otak kiri) 20%. Maka yang dibutuhkan adalah dominan kanan, bukan seimbang kanan kiri.

Dalam konsep Ippho, keseimbangan dalam sebuah tim menuntut seorang pemimpin yang dominan kanan, karena ia akan lebih visioner, kreatif, intuitif, impulsif, berpikir holistik, empati ke semua pihak, dan memahami yang tersirat. Dibawahnya, manajer madya adalah mereka yang memiliki keseimbangan otak kanan-kiri, memahami detil, kalkulasi, fokus, dengan keseimbangan kreatifitas, intuisi, dan impati. Sedangkan yang perlu memahami dan menguasai detil dengan penuh adalah para bawahan. (54). Dengan konsep ini, Ippho ingin mengajukan hipotesa bahwa siapapun yang ingin menjadi pemimpin, ingin maju, sukses, dan meraih impiannya maka ia mesti mengoptimalkan kerja otak kanannya. Golongan Kanan melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja. Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji, begitu kata Ippho.

Untuk menguraikan cara-cara berpikir otak kanan itu, Ippho memberikan 3 kunci. Kunci pertama adalah penguatan diri, ia menyebutnya Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri). Ini adalah sebuah langkah dimana seseorang merumuskan cita-cita, harapan, impiannya. Disini Ippho mencoba membangun keyakinan pembaca bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja. Karena bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada yang mustahil. Maka pegang kuat-kuat keyakinan akan impian itu. Mengucapkannya sering-sering, membayangkannya terus menerus, menancapkannya dalam pikiran, akan mendorong pada kesadaran batin dan pikiran untuk berusaha mewujudkannya. Setelah itu baru berupaya untuk membuat diri menjadi layak mendapat, meraih impian itu. Kerja keras, dedikasi, integritas, dan kesungguhan adalah kuncinya.

Kunci kedua adalah membangun hubungan baik dengan sekitar, Ini bertolah pada hukum Law of Attraction (LOA), apa yang kau beri itulah yang kau dapat. Ippho menyebut orang tua di urutan teratas untuk menjadi bagian yang layak mendapat perlakuan baik. Ia menyebutnya sebagai Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga). Disini, Ippho ingin menegaskan bahwa orang tua adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijaga keseimbangan hubungannya.

Agama manapun pasti menyebutkan tentang urgensi orang tua sebagai sosok yang mesti dihormati, dihargai, dan dijagai karena dari merekalah bermula kehidupan seorang anak manusia. Tak perlu menunggu sukses, baru bisa menyenangkan orang tua, tak perlu menunggu kaya, baru memberi perhatian orang tua. Balikkan, kata Ippho. Berbuat baik dulu pada orang tua, kaya dan sukses mengikuti. Restu mereka adalah Doa. Ini berpikir cara kanan, kesuksesan dilihat dengan keajaiban. Sesuatu yang menjadi rahmat atas perbuatan dan sikap baik. Bukan semata sebuah perencanaan yang baik atas angka-angka.

Kunci ketiga adalah hubungan baik dengan Tuhan. Simak cara Ippho menguraikan kedekatan dengan Tuhan sebagai sebuah titik tolak spiritual a la face book: Pertama, Tuhan mesti Anda add sebagai friend. Terus, banyak-banyaklah ganti status dengan Dia. Terus, banyak-banyaklah komunikasi wall to wall dengan Dia. Nah, begitu Anda sudah akrab, mudah-mudahan Anda akan sering mendapat notification dari Dia, sehingga intuisi Anda lebih peka terhadap sesuatu atau sesorang.

Uraian diatas menarik dan mudah difahami. Karena memang demikian gaya bahasa yang digunakan Ippho; renyah, lugas, dan humoris. Lihat saja bagaimana ia menulis: Gimana sih caranya agar kita bisa akarab dengan Dia? Yah, cobalah bisnis modal dengkul dan bisnis modal jidat. Modal dengkul maksudnya sering-sering bersimpuh. Modal jidat maksudnya sering-sering bersujud. Pembaca akan sering dibuat tertawa karena gaya penulisan Ippho ini memang enak disimak, tidak seperti buku motivasi umumnya yang kaku dan menggurui. Gaya tutur ini membuat pembaca diajak berpikir, menganalisa, dan membuat keputusan sendiri. Ada keintiman interaksi antara penulis dengan sidang pembaca melalui cara penulisan komunikatif seperti ini.

Interaksi dengan pembaca itu juga dibangun dengan berbagai pembenaran disertai bukti-bukti logis untuk mengajak pembaca menganggukkan kepala tanda setuju. Ippho membeberkan tentang apa perlunya bersedekah sekarang atau nanti, banyak atau sedikit. Ippho juga menguraikan apa perlunya menjadi seseorang atau sesuatu yang khas, beda, unik. Dan tentu saja, seruan ibadah itu tak terlewatkan. Manusia sukses adalah mereka yang dekat dengan Tuhannya melalui cara masing-masing. Ippho menawarkan beberapa cara sesuai yang diajarkan Islam.

Ippho memang layak menyandang sebutan motivator, ia handal dalam berdagang. Konsep menjadi pedagang ini pula yang ia tawarkan sebagai sebuah solusi dari kejumputan berpikir atas masalah pendapatan penghasilan. Ippho menghadirkan kisah-kisah dan logika-logika sehingga berdagang menjadi pilihan yang mestinya tak terbantahkan. Secara implisit, ia menunjukkan bagaimana caranya berdagang, menjual lebih banyak, lebih mahal dan lebih cepat itu. Perhatikan bagaimana ia memberikan sebuah bab khusus dalam buku ini yang ia sebut Bonus Langsung 1.350.000.

Bab dengan hanya 4 halaman itu sesungguhnya adalah semacam brosur pemasarannya. Di sana berisi tentang kandungan CD motivasi yang menyertai buku ini (200 ribu). Kalender,poster,sticker motivasi (100 ribu). Lagu motivasi (50 ribu), serta konsultasi pribadi senilai 1 juta. Bukan hanya itu, disini juga ada kode nada sambung pribadi yang bisa dipasang dalam ponsel. Selain itu, dalam setiap bab, saat memberikan tips, ia juga tak henti-henti menyeru agar pembaca yang merasa termotivasi dengan buku ini supaya meminjamkan atau membelikan buku ini kepada orang lain yang dianggap perlu. Sebuah strategi pemasaran yang sederhana tapi cukup nyata. Dalam tempo 3 bulan, buku ini cetak ulang 7 kali!

Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan Gading Marten (ini kata Ippho), buku ini menyimpan pula cacat retak disana sini. Endorsement alias testimoni yang sampai 12 halaman di awal dan 10 halaman di akhir membuat semua terasa berbusa-busa. Barangkali ini menjadi khas buku motivasi. Tapi 22 halaman rasanya berlebihan.

Kemudian gambar-gambar yang dihadirkan dalam buku ini terkesan dipaksakan. Terkadang korelasinya tidak jelas antara gambar dan topik bahasan. Ukurannya yang kecil dengan cetakan hitam putih membuat gambar semakin kehilangan makna. Buat apa ada gambar jika tak memberi manfaat bagi pembaca, setidaknya memanjakan mata atau memperjelas teks.

Selain itu, margin kanan dan kiri yang tidak berimbang menyempitkan kesempatan pembaca untuk membuat coretan ditepian buku. Sebagai sebuah buku motivasi, hendaknya pembaca diberi ruang gerak untuk menuangkan pengalamannya dalam coretan catatan kesan pembacaannya. Terakhir, daftar isi yang tidak memuat sub bab, menjadikan pembaca yang ingin membaca ulang mesti membolak-balik halaman mencari bab apa di bagian mana.

Selebihnya, buku ini cocok bagi siapa saja yang butuh motivasi dan arahan tentang bagaimana meraih impian, cita-cita, dan keluar dari masalah-masalah yang selama ini dirasa membuat kehidupan jalan ditempat. Rubah cara berpikir, perbaiki kualitas anda hingga layak mendapat impian itu, perbaiki hubungan sesama, dan dekatkan diri pada Tuhan. Memberilah sebanyak-banyaknya karena kau akan mendapat yang setara dengannya. Rayakan hidup, dan bernyanyilah seperti arek Suroboyo, “Right…ayo Right…, mlaku mlaku nang Tunjungan…”


*) Seorang pecinta buku yang memasang sidik jari kemenangan:
Di usia 32 tahunku, aku ingin jadi penulis yang diakui kompetensinya, dan bisa hidup dari menulis.
Karena penulis adalah profesi, right? Salam Kanan...!!

**) Resensi ini diikutkan pada lomba resensi di situs ini
http://www.rightbrainaward.com/index.php?option=com_rese&nsitask=view&id=305
teman-teman bisa membantu saya mewujudkan impian dengan menyetor jempol ke halaman rightbrainaward, terimakasih, semoga jempol anda yang disetor tulus berbuah kebaikan setara :-)
Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri - Resensi Buku 7 Keajaiban Rezeki

Minggu, 09 Agustus 2009


Quantum Writing: Cara Cepat nan Bermanfaat untuk Merangsang Munculnya Potensi Menulis
Penulis: Hernowo
Penerbit: Mizan Learning Centre (2004)

Menjadi Penulis Seutuhnya
Siapa pun yang ingin jadi penulis ia bukan hanya harus menguasai teori teknik menulis yang baik. Lebih dari itu, ia mesti mampu mengusir segala pikiran negatif yang menghambat energinya untuk menulis.
Kebanyakan penulis pemula mengalami hambatan dan kemandegan ketika mengawali proses penulisan. Hambatan itu bisa berupa persepsi dan cara pandang terhadap tujuan dan kedirian.
Bisa juga berupa kebingungan mengurai isi pikiran yang berkelebatan. Hernowo melalui Quantum Writing-nya mencoba membantu mengurai hambatan-hambatan itu. Quantum Wrtiting ini merupakan saudara kembar dari Quantum Reading yang terbit sebelumnya. Mereka beda kulit namun sama secara substansi. Masing-masing memiliki ciri khusus, namun saling terikat satu dengan yang lain. Jiwa, semangat yang ada di dalamnya sama.
Dari sisi tubuh, tak ada yang istimewa dari Quantum Writing. Hanya tampak bahwa tulisan judulnya begitu keras, tegas, dan dinamis karena tampak menonjol dengan latar belakang hitam. Berlawanan dengan saudara kembarnya, Quantum Reading, yang lebih bernuansa cerah dan ringan dengan design yang pula sederhana. Mungkin keduanya sengaja dibedakan untuk menegaskan bahwa dua buku ini saling melengkapi. Hitam-putih. Berat-ringan.
Seperti saudara kembarnya, Quantum Writing juga membahas mengenai manfaat menulis dan cara pandang terhadap proses menulis. Ketika banyak penulis mengatakan bahwa menulis dapat menyehatkan tubuh, Hernowo pun mengakui. Fatima Mernisi bilang, “Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit Anda akan menjadi segar kembali akibat kandungan manfaat yang luar biasa”.
Dr. Pennebaker bahkan telah melakukan penelitian dan mengatakan, “Orang-orang yang menuliskan pikiran dan perasaan terdalam mereka tentang pengalaman traumatis menunjukkan peningkatan fungsi kekebalan tubuh dibandingkan dengan orang-orang yang menuliskan masalah-masalah remeh temeh. Menulis tentang pikiran dan perasaan terdalam tentang trauma yang mereka alami menghasilkan suasana hati yang lebih baik, pandangan yang lebih positif, dan kesehatan fisik yang lebih baik” .
Ya, menulis tentang trauma, menuliskan hal-hal yang sangat pribadi akan membantu melepaskan beban dan keresahan yang ada di hati. Menulis hal pribadi membantu menggali sisi paling intim dan emosional seseorang. Semakin dalam akan semakin membantu menjernihkan pikiran dan bahkan menyelesaikan masalah. Karena itu menulis catatan pribadi menjadi sangat penting dilakukan bagi siapa saja. Terutama bagi mereka yang sering berada pada situasi bertekanan tinggi.
Bagaimana jika tulisan terbaca orang lain? Ketakutan semacam ini sering menghantui dan menjadi penghambat yang bisa sampai mengagalkan niat menulis. Ada caranya agar semua tetap menjadi rahasia. Kata Dr. Pennebaker yang dikutip Hernowo, semua harus dilakukan secara anonim dan dirahasiakan.
Apa yang harus ditulis? Apa saja. Apa saja yang diinginkan. Bebaskan diri. Biarkan setiap kata mengalir apa adanya. Tumpahkan saja. Bahkan caci-maki, sumpah serapah atau ratapan sekalipun. Kebingungan pun layak ditulis. Pikiran kosong pun tulis saja. Titik-titik, tanda seru, tanda tanya berderet-deret juga sah untuk ditulis. Misal: Aku bingung…. pusing..!!!.....bingung… ,,,,,,, pusing…. sebel… !!!!!!!!!!!!!!! ....... ????????????/...///…….
Tidak usah terlalu memikirkan tata bahasa, ejaan, atau struktur kalimat. Tulis saja sealami mungkin. Ini akan sangat membantu meringankan beban yang menggelayut. Dan akibatnya pikiran akan lebih sehat. Badan pun ikut sehat. Maka yakinilah sedalam-dalamnya bahwa menulis menyehatkan dan buktikanlah.

Menukik Lebih Dalam
Jika konsep dasar pada keyakinan dan cara pandang bahwa menulis menyehatkan sudah terbangun, maka kemudian tinggal membangun kesadaran konsep bahwa “menulis untuk diri sendiri”. Ini konsep dasar bagaimana menjadikan menulis sebagai alat untuk mengatasi persoalan dalam diri. Untuk menyelesaikan masalah-masalah kedirian, perlu dilatih untuk mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya tentang tujuan dan visi diri.
Mengajukan pertanyaan bukan hal yang mudah. Ada hambatan-hambatan dalam diri yang menjadikan pertanyaan sulit diurai. Apa lagi pertanyaan itu mesti ditulis. Mengapa ditulis? Karena ini tentang belajar menulis bukan bicara. Maka hambatan-hambatan itu harus dihilangkan terlebih dahulu. Menulis kita jadikan alat untuk mengusir hambatan itu.
Hambatan pertama yang sering membuat orang susah bertanya adalah KETIDAKTAHUAN. Ketika kita tidak tahu apa-apa, untuk bisa melakukan hanya satu hal yang bisa dilakukan: meniru. Ini seperti konsep bayi yang baru lahir. Mula-mula hanya meniru lalu lambat laun dapat melakukan dengan sempurna. Dengan meniru kita akan mengalami proses dari tidak tahu menjadi tahu. Dengan meniru menulis, akan tergali potensi menulis dalam diri. Bahkan kita jadi tahu apakah kita punya bakat menulis atau tidak.
Banyak penulis pemula yang tak yakin bahwa ia bisa menulis. Padahal menulis ini bisa membantu melepaskan dari keterikatan pandangan yang mengekang. Penulis bebas mengurai pendapat sekalipun berbeda dengan sekitarnya. Menulis membantu berlatih mengurai argumen agar dapat menolak dan berpendapat dengan santun. Jadi tak perlu takut berbeda pandangan.
Rasa takut disalahkan, takut dikecam, takut dinilai juga jadi penghambat. Rasa TAKUT membuat diri tak berkembang. Maka hilangkan dengan memberi sugesti bahwa menulis ini untuk diri sendiri. Risikonya ditanggung sendiri. Tanggung jawabnya juga hanya pada diri sendiri. Jika lepas dari beban ini dan ketakutan itu sirna maka hambatan yang lain juga dapat diurai.
Rasa takut yang hilang akan memunculkan rasa percaya diri. Ini penting, karena penghargaan terhadap diri yang rendah juga merupakan hambatan yang harus dibuang jauh-jauh. Dengan menulis, akan tergali potensi yang sebelumnya tak disadari. Dengan menulis penghargaan terhadap diri itu akan tumbuh.
Menulis juga membantu diri untuk keluar dari kungkungan rasa gengsi dan sok tahu. Dengan menulis, kita belajar untuk lebih bijak mengurai masalah sehingga lebih hati-hati dalam memutuskan sesuatu.
Jika semua hambatan-hambatan dalam diri itu telah terhapus, dan menulis telah menjadi candu yang mengalir alami, selanjutnya tinggal melatih menulis untuk orang lain.

Menulis untuk Dibaca Orang Lain
Hernowo mengutip pendapat Smith bahwa menulis punya dua alasan. Yaitu untuk berkomunikasi dengan orang lain dan untuk untuk memperjelas dan merangsang pikiran dalam diri kita. Pada tahap ini kita akan berlatih berbagi pengalaman. Baik dari pengalaman diri sendiri maupun dari orang lain yang kita ceritakan kembali. Untuk memperkaya pengalaman itu kunci utamanya adalah membaca. Karena Quantum Writing adalah saudara kembar Quantum Reading, seperti halnya menulis adalah pasangan membaca, keduanya saling melengkapi.
Membaca menambah kekayaan kosa kata dalam menulis. Membaca, menurut Hernowo, membantu penulis menemukan gaya penulisan. Juga membantu menyelesaikan masalah dan menjadikan kita semakin cerdas.
Seperti selalu diungkapkan Hernowo dalam setiap buku-bukunya, menulis merupakan proses pengikatan makna dari aktivitas membaca. Sebaliknya, membaca membantu memberikan bahan-bahan untuk diolah dalam penulisan. Semakin beragam bacaan akan semakin beragam pula materi tulisan yang dimiliki. Proses adaptasi membaca ke gaya menulis ini berjalan tanpa disadari. Menyusup begitu saja dengan alami dan naluriah. Penulis yang terus berlatih lama-kelamaan akan terbiasa dengan proses ini.
Penulis yang mencintai proses pencarian kedirian dan bentuk tulisannya akan terbantu dengan buku ini. Setidaknya ia memberikan masukan-masukan agar penulis bisa melakukan refleksi ulang atau bahkan rekonstruksi atas motivasi, niat, tujuan, hingga persepsi-persepsinya tentang menulis. Ditambah beberapa tips teknik menulis, Hernowo seakan ingin menunjukkan bagaimana membaca memberikan pengaruh gaya penulisan. Membaca memberikan masukan materi pada tema tulisan. Setelah menutup buku, pembaca akan menyimpulkan sesuatu dan menuliskannya. Seperti pembaca yang menulis catatan ini.
Hernowo memang hanya mengutip dan menukil dari pendapat para ahli. Kemudian ia merangkainya dengan kata-katanya sendiri. Tak perlu memperdebatkan keorisinilan idenya. Hernowo telah menunjukkan teori-teori yang ditulisnya dengan langsung mewujudkan pada buku yang ditulisnya sendiri.
Saya kemudian meringkas lagi tulisannya. Jadi ini seperti efek berantai. Salah? Tidak. Justru inilah inti membaca itu sebenarnya. Membaca dapat dianggap berhasil apabila pembaca dapat memahami yang dibaca. Memahami di sini bukan sekadar menyerap isi namun juga termasuk menangkap kekurangan dan kelebihan di dalamnya. Ini yang namanya membaca membawa kesan. Kesan itu jika dituliskan akan memberi manfaat bagi diri dan bagi orang lain.
Menulis intinya adalah berbagi. Maka menulislah. (Diana AV Sasa)

Tips Cara Bertanya/Meminta:
1. Bertanyalah seakan-akan Anda memang seharusnya mendapatkan (percaya diri dan yakin bahwa kita akan mendapat jawaban yg kita mau)
2. Bertanya pada orang yang bisa memberikan jawab/ahlinya
3. Sebut dengan rinci apa yang ingin Anda tahu
4. Tanyakan dengan sungguh-sungguh
5. Tanyakan dengan humoris dan kretatif
6. Memberilah supaya menerima: bersikap baik
7. Bertanyalah berulang-ulang.

Tips Menulis ala Hernowo:
1. Buat peta pikiran ide, mind mapping, cara-caranya ada dalam Quantum Writing maupun Quantum Reading
2. Dengarkan musik yang merangsang kreativitas atau imajinasi. Disarankan musik klasik.
Untuk merangsang imajinasi :
Bethoven (Symphony No.6 atau “Pastoral”
Berlioz (Harold in Italy)
Bloch (Schelomo)
Britten (Four Sea Interludes from Peter Grimes)
Copland (Lincoln Portrait, Quiet City, Appalachian spring)
Delius (Florida Suite)
Dvorak (Slavonic Dances)
Haydn (The Creation)
Hovanhess (Misterious Mountain)
Ravel (Daphnis and Chloe. Suite No.2, Mother Goose Suite, “The fairy Garden”)
Sibelus (The Bard)
Smetana (The Moldau, The High Castle)

Untuk meningkatkan kreativitas:
Sibelius (Symphony No.2,1st movement)
Vaughan Williams (In the Fen Country)
Delius (Koanga:”La Calinda”)
Kalinnikov (Aka Kombo)
D’Indy (Symphony on a French Mountain Air,1st movement)
Vaughan Williams(Norfolk Rhapsody No.1)
Mendelssohn (Scottish Symphony No.3,2nd movement)
Faure (Pavane)
Ravel (cuplikan Daphnis and Chloe, Suite 2)
3. Menulis cepat
4. Gunakan bahasa yang memperagakan bukan memberitahukan (Show Not Tell)
5. Buat peta kreatif, menulis mengalir, edit ulang.

Tips Menemukan Gaya:
1. Tentukan siapa pembacanya
2. Pikat mereka
3. Beri alasan
4. Jangan bertele-tele
5. Buat tampilan memikat
6. Akhiri dengan ledakan.

Judul : Catatan Hati Krisdayanti : My Life My Secret

Penulis : Albertheine Endah

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978-979-22-4703-9

Tebal : 358 + 68 foto

Harga : Rp. 88000

Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)

Krisdayanti (KD), begitu orang mengenalnya. Ia dikenang karena lagu-lagunya beberapa kali merajai pasar musik Indonesia hingga manca. Permainan perannya di layar kaca sempat memukau dan menguras air mata ibu-ibu pecinta sinetron. Tampilan panggungnya glamor, atraktif, dan memikat. Setiap gaya rambut, pakaian, hingga alisnya menjadi barometer trend para perempuan. Ia menjadi sorotan halayak. Kiprahnya dikenang dan tercatat dalam sejarah musik tanah air. Ibarat produk, ia adalah barang kelas 1.

Sebagai ‘produk’ kelas 1, KD menjaga sekali kepuasan pelanggannya, dalam hal ini pengemarnya. Untuk itu ia berusaha sebisa-bisanya untuk menjaga kualitas ‘produk’. KD bukan hanya menjaga kualitas suara, tapi juga penampilan panggung dan citra diri seutuhnya. Baginya, pengemar yang sudah membayar mahal untuk melihatnya di panggung, layak mendapat suguhan terbaik. Penata musik, pinata rias, penata kostum, koreografer, hingga tata panggung dilakukan oleh orang-orang terpilih dan terbaik dikelasnya. Penggemar yang mengaguminya sebagai bintang, juga layak mendapat apresiasi penuh. Citra diri sorang bintang dibangunnya dengan pondasi keyakinan, harapan, dan menejemen yang kuat.

Sebagai seorang ‘bintang’, KD bukan hanya ingin populer tapi juga ingin agar dirinya selalu dikenang penggemarnya, KD menjalankan petikan kalimat Franklin di atas dengan baik. Di jagad tarik suara, ia akan dilupakan jika lagu-lagunya tak lagi memenuhi selera telinga pasar. Tapi KD terus berinovasi. Dan seperti kata Franklin, KD menulis sesuatu yang pantas dibaca orang lain, buku.

Buku itu bertajuk “Catatan Hati Krisdayanti: My Life My Secret” (MLMS), ditulis dan tata ulang oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah akrab dengan dunia artis dan pernah menulis biografi beberapa artis lain seperti Chrisye, Titik Puspa, Anne Avanty, Venna Melinda, dan KD sendiri. Buku ini adalah buku kedua yang mengupas sisi hidup seorang KD, sang diva, sang bintang.

MLMS ditulis dengan semangat berbagi. Menguak rahasia kesalahan di masa lalu, dan membagi pelajaran berharga dari dalamnya. Tentu saja ini bukan hal baru. Banyak orang penting (baca:public figure) yang menguak sisi-sisi gelap dirinya dengan semangat berbagi kisah dan teladan hidup. Namun, sebagai seorang bintang, upaya KD membukukan catatan hidupnya bukan semata karena ingin berbagi. Ini adalah satu dari sekian banyak upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan kebintangannya.

Dalam rumus karir KD, eksistensi adalah kunci untuk tetap bertahan dan dikenang sebagai seorang bintang. Ketika pasar musik Indonesia digeruduk musik-musik band dan maskulin, KD harus mempertahankan kebintangannya dengan terus berkarya. Ia tak bisa memaksakan masyarakat untuk selalu menerima musik dan lagunya. Maka ia harus berkarya dalam format lain agar masyarakat terjaga ingatannya akan seorang KD. Dan ia memilih untuk membuat buku (lagi).

Buku adalah monumen perjalanan yang merekam jejak sang bintang. Ketika sang bintang masih menghela nafas, pembacanya dapat menilik kebenaran dari apa yang dikatakan buku dengan memadankannya dengan realitas. Ini tentu berbeda jika buku ditulis ketika sang bintang sudah berkalang tanah. Pembaca hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira saja. Itu pula alasan mengapa Omi Intan Naomi menulis proses berkarya Ugo Untoro dalam senirupa justru ketika Ugo masih hidup. Meski tak lama setelah buku itu terbit, Omi rebah untuk selama-lamanya. Namun ia telah meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang:buku. Ugo maupun KD adalah bintang, dan mereka patut membangun monumennya dalam sebuah buku.

Buku pertama KD, “1001 KD”, lebih banyak mengungkap sisi positif KD sebagai bintang. Pencapaian-pencapaian dan pernik-pernik hidupnya yang membentuk citra seorang bintang. Maka MLMS mengimbanginya dengan menampilkan sisi KD sebagai manusia biasa yang tak luput dari alpa dan luput.

Dalam beberapa wawancara dengan media massa, KD menyebutkan bahwa ada tiga rahasia penting yang diungkapnya dalam MLMS. Pertama, KD pernah mengonsumsi narkoba pada 1998 hingga 1999. Kedua, KD pernah ditalak oleh Anang, suaminya. Dan ketiga, ia mengungkapkan bahwa ia pernah operasi plastik. Bagi KD, ketiga hal itu adalah rahasia besar dalam kehidupannya. KD memang bertahan untuk menjaga citra yang dibangunnya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memunculkan sosok KD yang nyaris sempurna :Cantik, tubuh sempurna, populer, materi melimpah, keluarga bahagia,dan banyak kawan.Maka segala hal-hal buruk yang dapat menurunkan citranya wajib segera ditutup dan diupayakan tidak tersiar ke publik. Maka MLMS menjadi semacam sensasi untuk kembali mengetuk ingatan orang akan seorang KD.

Bagi saya, tidak ada yang terlalu mengejutkan dari ketiga rahasianya. Narkoba adalah barang yang sudah akrab dengan dunia selebriti. Media massa sudah banyak merekam kronik artis yang pernah menjajalnya. Sebut saja Roy Marten, Ari Laso, Doyok, Slank, Sheila Marcia, dan lain-lain. Mereka itu yang kebetulan tertangkap, yang masih menikmati surga semu itu juga tak sedikit. Padatnya kegiatan keartisan yang membutuhkan stamina prima, psikologi yang tertekan karena terus menjadi sorotan, hingga lingkungan pergaulan yang akrab dengan dunia malam adalah beberapa alasan yang acap kali terlontar. Narkoba menjadi identik dengan dunia keartisan secara tidak langsung karena media banyak memberitakan artis yang menggunakan barang memabukkan itu. Maka ungkapan KD pernah menghisap shabu-shabu tidaklah terlalu mengejutkan.

Pengakuan bahwa Anang pernah melontarkan talak pada KD gara-gara KD bersikap kasar pada ibu mertuanya juga tak terlampau mengejutkan sebenarnya. Sekali lagi, ini karena media telah banyak memberitakan peristiwa kawin-cerai dikalangan artis. Hingga hal itu menjadi hal yang dianggap biasa bagi kalangan artis dimata penikmat media.

Demikian juga dengan operasi plastik. Sudah bukan gossip atau hisapan jempol jika artis banyak melakukan operasi plastik untuk merubah atau mempertahankan penampilannya agar tetap prima. Lagi pula, operasi plastik banyak dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita paska melahirkan yang kendur. Ketika KD melakukannya, sudah tidak aneh. Selain banyak orang melakukannya, beberapa media memang pernah mempertanyakan postur tubuhnya dan melontar tuduhan operasi plastic. Maka pengakua KD kemudian hanya menjadi satu pembenaran saja atas tuduhan itu.

Selebihnya, MLMS layak mendapat apresiasi mengingat tak banyak seniman kita yang memiliki kesadaran untuk membukukan perjalanan hidup dan karirnya sehingga generasi mendatang dapat belajar dari bukunya. Pencatatan ini penting, karena sejarah ditorehkan dari sini. Buku menjadi semacam monumen sejarah hidup. Tempat dimana setiap pencapaian dan peristiwa dikenang. Kita akan mengenal sejarah dengan baik jika kita dapat mengenali sejarah diri kita sendiri, begitu kata Pramoedya. Maka tulislah sejarah hidupmu sebaik-baiknya, serapi-rapinya. (Diana AV Sasa)

Selasa, 05 Mei 2009


Creative Writing: 72 Jurus Seni Mengarang
Penulis : Naning Pranoto
Penerbit : PT Primadia Pustaka (2004)

Dari Mana 72 Jurus Bermula?

Naning Pranoto adalah penulis fiksi dan sekaligus nonfiksi. Bukunya sudah lebih dari 20. Jebolan University of Western, Sydney, dengan ilmu khusus menulis kreatif. Ia pakar menulis dan sering menjadi pembicara workshop atau pelatihan menulis. Pernah menjajal sebagai wartawan, editor, hingga pimpinan redaksi. Maka menulis memang sudah makanan kesehariannya. Dan tentu saja jurus-jurus menulis sangat ia kuasai. Ia pun berniat menurunkan ilmu itu.

Ditulisnya di sampul buku itu: 72 Jurus Seni Mengarang. Entah mengapa ia memilih angka 72. Barangkali angka 7 dan 2 itu bermakna khusus baginya, seperti Indonesia Buku (I:BOEKOE) demikian mengeramati angka ”100” sebagai judul bukunya, seperti telihat dari judul-judul bukunya: 100 Buku Sastra Indonesia Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan, 100 Pemberontakan Indonesia, 100 Tokoh Pers Indonesia, 100 Pledoi Indonesia, dan sebagainya. Saya tak tahu pasti dan tak menemukan rujukan tentang itu.

Berikut ini mari coba kita runut ke 72 jurus menulis menurut Naning itu.

7 MODAL UNTUK MENULIS:
1. Penguasaan bahasa dan cara menulisnya.
2. Kaya kosakata.
3. Memiliki akar dan wawasan.
4. Kepekaan terhadap lingkungan.
5. Memompa dan mengolah daya imajinasi.
6. Konsentrasi.
7. Disiplin.

6 CARA UNTUK MEMULAI MENULIS:
8. Tentukan gaya/ciri khas penulisan.
9. Menggunakan kata-kata pilihan sesuai dengan jiwa kita.
10. Perhatikan tata bahasa dan tanda baca.
11. Hindari pembukaan cerita yang bertele-tele.
12. Jangan ragu-ragu atau malu-malu.
13. Hindari merevisi sebelum tulisan selesai.

6 JURUS MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS:
14. Mencari referensi sebagai guru.
15. Rajin mengoleksi kata-kata baru.
16. Cara memperkaya kosa kata:
a. Banyak membaca: karya fisksi dan non fiksi, suratkabar, majalah, buletin, brosur, tabloid, jurnal.
b. Senang bergaul dengan siapa saja dari pelbagai lapisan kelas.
c. Rajin mendengarkan berita, talkshow, konsultasi, pidato, ceramah, iklan radio/tv.
d. Menonton film/pertunjukan seni.
17. Kursus penulisan kreatif.
18. Mengintip cara kerja para penulis.
19. Menulis dalam kepala.

7 CARA MENGHEMAT ENERGI DAN WAKTU:
20. Mulailah menulis dengan materi yang Anda ketahui dan Anda sukai.
21. Gunakanlah bahasa dan gaya yang mudah dimengerti.
22. Tulis dengan paragraf pendek.
23. Buka kamus dan referensi.
24. Jangan memaksakan diri.
25. Resep produktif:
a. Kondisi tubuh sehat, in the mood, pikiran jernih.
b. Saat menulis, punggung dan bahu tegak.
c. Badan segar, baju bersih.
d. Sirkulasi ruangan segar.
e. Iringi alunan musik lembut.
f. Untuk mencegah kantuk, makan permen.
g. Hindari suara telepon, televise, radio, dan kunjungan teman.
h. Singkirkan cemilan.
i. Sediakan semua peralatan menulis.
26. Menulis untuk siapa?
Agar karya segera diterbitkan:
a. Prediksi pasar, selera masyarakat dan penerbit.
b. Miliki pembaca yang mampu memberi kritik.
c. Punya jaringan kerja dengan penerbitan.
d. Buat bank naskah.
e. Masuk klub menulis.
f. Sering tampil di depan publik sebagai pembicara.
g. Selenggarakan acara peluncuran karya terbaru dengan mengundang publik figur dan kalangan buku.
h. Cetak poster untuk promosi.
i. Jalin hubungan dengan pers.

10 CARA MEMILIH KEKUATAN DAN KELEMBUTAN KATA:
27. Ekonomi kata: jangan memboroskan kata-kata.
28. Pilih kata yang tidak usang dan klise.
29. Pilih kata yang definitif (contoh yang tak definitif: banyak sekali. Banyak itu berapa?).
30. Pilih kata-kata yang santun, perhalus kata-kata yang kasar.
31. Pilih kata yang enak dibaca dan didengar.
32. Pilih kata-kata yang biasa, yang penting seni merangkainya.
33. Pilih kata yang lembut pada saat yang tepat.
34. Pilih kata kerja aktif, kecuali terpaksa lain.
35. Pilih padan kata yang ada untuk menghindari pengulangan kata yang berlebihan.
36. Pilih kata-kata baku, bukan kata-kata yang telah berubah dari aslinya.

5 CARA MEMBANGUN GAYA PENULISAN
37. Mencari gaya penulisan.
a. Banyaknya pengalaman menulis.
b. Banyaknya bacan yang dibaca.
c. Rajin menganalisis karya yang dibacanya.
d. Rajin bereksperimen menulis dengan pelbagai karya.
e. Berani tampil beda dalam karya.
f. Siap dikritik dan dipuji.
38. Dengarkan kalimat suara hati. Berekspresi sejujur-jujurnya agar kalimat yang lahir memiliki jiwa dan siaplah dikritik.
39. Siratkan isi imajinasi (gabungkan realitas dengan sedikit imajinasi).
40. Lukiskan jangan katakan.
41. Jangan memaksakan diri: asah kepekaan imajinasi dan lingkungan.

5 CARA MENARIK PEMBACA:
42. Pengarang bukan penceramah.
43. Tulis tentang manusia.
44. Gunakan setting yang memikat.
45. Tunjukan memang Anda tahu banyak.
46. Ciptakan nama-nama tokoh yang mengesankan.

5 HAL YANG TIDAK DISUKAI PEMBACA:
1. Dianggap berat isinya.
2. Bahasanya dinilai terlalu tinggi.
3. Ceritanya bertele-tele.
4. Cerita terlalu panjang.
5. Materi dianggap asing/aneh.

5 JURUS MENGHINDARI:
47 Mengolah materi yang berat menjadi ringan.
48. Mengubah bahasa berbelit menjadi komunikatif.
49. Alur cerita jangan diulur-ulur.
50. Materi yang aneh hindari.
51. Hindari bahasa yang asing.

6 CARA MENGEDIT KARYA
52. Baca: untuk menemukan kejanggalan (kata, kalimat, karya).
53. Edit kata, kalimat, dan tanda baca.
54. Memenggal dan menambah tulisan
a. Ada tidaknya perubahan materi.
b. Jeli melakukan perubahan.
c. Cari kata-kata yang ditambahkan itu benar-benar kuat(tidak hanya menambah jumlah kata tapi juga memperindah).
d. Ciptakan kalimat yang member jiwa karya yang diubah.
e. Utamakan unsur logika.
55. Cocokkan isi karya dengan judul.
56. Teliti jumlah kata/halaman.
57. Karya kita untuk siapa?

5 CARA MENGATASI KEBUNTUAN
58. Tulis saja.
59. Diskusikan materi.
60. Himpun materi (rileks, jalan-jalan)
61. Buat jadwal kerja dan dead line.
62. Bujuk diri sendiri untuk menulis.

Saya sudah menghitung, tapi tak juga ketemu genap 72 jurus. Saya ulangi lagi, tetap saja sama. Saya tidak mengerti jurus mana yang belum saya temukan. Jika 5 alasan buku tak disukai pembaca saya tambahkan, belum genap 72. Di bagian belakang buku ini ada tambahan nukilan proses kreatif 7 penulis dunia. Jika itu saya tambahkan, malahan surplus 2 jurus. Barangkali Anda bisa menghitung lebih baik dari saya, atau bisa membaca lebih teliti dari saya, silahkan dicari sisa jurus yang lain. Sulit bagi saya menerima angka 72 itu karena pada kenyataannya ada anak-anak jurus yang jika dijumlah akan lebih dari 72 (silahkan hitung sendiri).

Saya bukan ahli matematika yang ingin mencari misteri angka 72 itu, maka biarkan sajalah ia tetap apa adanya. Saya hanya menggarisbawahi bahwa buku ini memberi referensi tambahan yang berguna bagi mereka yang ingin lebih terampil menulis. Asal setelah membaca buku ini bukannya kreativitas jadi mandeg karena terbentur banyaknya aturan-aturan. Bagaimanapun juga sang penulis adalah guru menulis di pelbagai pelatihan. Jadi buku ini pun tak jauh dari pola-pola buku pelatihan yang umumnya teoretis. Pelatihan menulis hanya mengajarkan bagaimana menulis bukan bagaimana agar Anda bisa menulis. Jurus apa pun dari guru mana pun, kuncinya ada di diri Anda sendiri bagaimana memulai dan berdisiplin menulis tanpa berputus asa. Selamat menulis. (Diana AV Sasa)

Selasa, 28 April 2009

Agar Menulis Bisa Gampang


Oleh Diana AV Sasa

“Buku ini bisa dibaca dalam 10 Menit,” demikian Andrias Harefa membuka tulisan dalam bukunya berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Kalimat ini provokatif sekali mengingat tebal bukunya sampai 100 halaman dan itu musykil menyelesaikannya dalam 10 menit.

Namun, Andrias menyarankan agar membaca saja halaman sebelah kiri di setiap awal 17 subjudul yang merupakan saripati dari bab terkait. Jika tak mengerti, barulah membaca uraian di halaman sebelahnya yang juga tak terlalu panjang.

Saya mencoba tantangan itu. Dan benar saja, dengan membaca sekilas saja—tak sampai 10 menit—saya mendapat gambaran bagaimana menulis bisa menjadi mudah. Kutipan-kutipan yang diambil sangat mendasar, motivatif, dan menjawab pertanyaan klasik kebanyakan penulis pemula. Sajiannya yang nge-pop disertai ilustrasi kartun yang lucu membuat kalimatnya mudah dicerna dan dipahami.

Andrias menulis buku ini sebagai jawaban kegelisahan yang dialaminya ketika membaca beberapa buku mengenai mengarang yang justru banyak menguraikan hal-hal teknis seputar tata penulisan yang membuat dahi berkerut. Salah satunya buku Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang.

Seperti halnya saya, ternyata Andrias menemukan kesan yang sama setelah membaca buku sang maestro itu, bahwa mengarang itu alih-alih gampang, malah makin sulit.

Menurut Andrias, ada kondisi prasyarat yang harus dipenuhi agar menulis menjadi gampang. Artinya, harus ada kesediaan berproses melalui pembelajaran yang harus dilewati bila ingin mencapai tahap ”gampang” itu.

Karena itu, Andrias memilih dua kata AGAR-BISA sebagai representasi tujuan dari bukunya. Ia hanya ingin menunjukkan jalan bagaimana agar menulis itu menjadi gampang, bukan memaparkan jalan berliku yang mesti dilakukan dalam teknis menulis. Ia berfokus pada motivasi yang membangkitkan minat dan ambisi penuh cinta untuk belajar menulis sampai hal itu menjadi benar-nemar gampang.

Untuk itu, di awal Andrias memberi lembar khusus peringatan dibukunya.

“Anda tak bisa belajar menulis/mengarang dengan membaca buku ini. Sebab buku ini adalah buku tentang menulis/mengarang. Artinya, dengan membaca buku ini Anda baru belajar tentang dan sama sekali belum belajar menulis dan mengarang. Menulis/mengarang adalah praktik, sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa,” demikian tulisnya.

Dari halaman peringatan ini saja saya sudah bisa menangkap arah dan tujuan ke mana Andrias akan menggiring isi bukunya. Dasar yang diletakkannya demikian jelas. Kunci dari ”bisa” menulis adalah latihan dan latihan. Teori sebanyak dan sebaik apa pun yang diserap hanya akan mandeg jika tak pernah mulai berlatih menulis.

Sebelum mulai berlatih, ada pondasi dasar yang harus dikukuhkan terlebih dahulu. Ini adalah kondisi prasyarat yang utama. Keyakinan bahwa ”aku bisa menulis” harus dibangun kuat. Siapa saja yang pernah sekolah di Sekolah Dasar pasti pernah membuat karangan. Artinya, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar yang mampu dilakukan.

Keyakinan itu mesti didorong dengan rasa cinta yang kuat pula terhadap aktivitas menulis. Dengan kecintaan, menulis menjadi segampang menulis puisi cinta romantik saat jatuh cinta. Ini adalah kekuatan luar biasa yang berada di bawah sadar. Cinta membuat seseorang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Dengan demikian hati lebih mudah digerakkan. Ketika gerakan hati ini dipadukan dengan wawasan, lahirlah ide. Ditambah keterampilan sekolah dasar, lahirlah tulisan, apa pun bentuknya. Sederhana sekali menganalogikan cinta dan menulis ini.

Cinta saja tak cukup. Perlu komitmen, kesungguhan hati, tekad bulat, keyakinan, dan percaya diri untuk bisa mengarang agar cinta itu tak kehilangan arah. Minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu yang kita yakini sebagai ‘kebenaran’ akan membantu menjadikan mengarang itu mudah.

Andrias benar, apa yang tertanam dalam hati sebagai sebuah keyakinan memang akan melahirkan dorongan ambisi dan kehendak besar untuk membuktikan kebenaran keyakinan itu. Berjalan dengan keyakinan akan melahirkan hasil akhir yang penuh kekuatan, berisi, dan memuaskan batin.

Agar kemampuan menulis berkembang menjadi kebiasaan, menurut Andrias, maka latihan adalah bangunan berikutnya yang mesti ditegakkan. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Ide bisa berasal dari apa saja di mana saja. Hanya diperlukan situasi hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati dunia sekitar agar ide itu muncul sebagai sebuah kebiasaan.

Yang perlu dilakukan kemudian adalah menumbuhkan sikap rasional dengan melatih pertanyaan atas ide tersebut. Apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana diolah terus hingga ide itu berkembag. Membiasakan diri dengan mengolah pertanyaan akan melatih membangun argumentasi rasional.

Resep Andrias yang berasal dari perenungan pengalaman pribadi dan wawasannya ini memberi petunjuk jelas bagaimana caranya sebuah ide bisa dikembangkan dengan mudah. Kuncinya satu, menjawab 6 pertanyaan pokok itu.

Lantas bagaimana setelah ide itu ada? Andrias menawarkan resep dari pengalaman pribadinya dan juga beberapa penulis lain yang cukup dikenal. Riset adalah tahap meramu ide itu menjadi tulisan yang beraneka rasa dengan bahan yang beragam pula. Riset ini adalah kata lain dari mengumpulkan bahan tambahan. Sumbernya bisa dari buku, majalah, koran, tivi, atau internet.

Kian banyak buku yang dibaca, kian banyak bahan tambahan yang dipunya, maka materi karangan pun akan makin bervariasi. Ibarat orang memasak, punya bahan 3 sayuran dengan 10 sayuran tentu beda. Bahan 10 sayuran sudah pasti akan menghasilkan masakan yang lebih variatif.

Menulis pun begitu. Bahan-bahan tambahan itu yang akan memperkaya padu padan ide dengan wawasan. Tugas penulis adalah meramunya hingga menjadi enak dan lezat disantap. Menambah dan mengurangi di sana sini sampai ketemu rasa yang pas.

Bagaimana mulai meramunya jika kita tak punya pengalaman mengolah sebelumnya? Andrias menularkan ajaran guru menulisnya, Mardjuki, seorang wartawan Yogyakarta yang mengajarkan 3 N: Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahi). Amati saja beberapa tulisan orang lain, pahami karakternya, tiru gayanya atau pola berpikirnya, buat dengan gaya sendiri dengan menambahi di sana sini.

Menurut saya, inilah seni menulis itu, seperti penjahit yang menelisik dan menyatukan bahan demi bahan. Beda orang beda hasil jahitan. Di sini kompetisi itu terletak. Keterampilan dan latihan terus-menerus akan menghasilkan karya yang berbeda tergantung kualitas latihannya. Seorang atlet yang latihan sekali dengan sepuluh kali tentu hasilnya akan berbeda, bukan?
Dari mana mulai berlatih menjahitnya? Kebanyakan ahli menyarankan menulis dengan sistem yang linear otak kiri. Dari ide, lalu topik, judul, dan gagasan pendukungnya, baru kemudian penutup.

Andrias mencoba menawarkan gagasan berbeda dengan pola otak kanan. Memulai bisa dari mana saja, tengah, atau akhir tak masalah. Dari mana saja ide itu awalnya bermula. Yang penting ditulis saja dulu. Nanti dengan sendirinya akan berkembang pikiran itu untuk melengkapinya. Andrias tentu saja tetap menyarankan beberapa hal berkaitan dengan pemilihan judul dan topik yang pas dengan ramuan yang dibuat.

Jika sudah jadi, maka tinggal mengkritik naskah mentah yang sudah ada. Boleh dikritik sendiri atau orang lain agar lebih komprehensif. Lalu coba kirim ke media untuk dipublikasikan sehingga mutu tulisan teruji. Jika ditolak jangan berputus asa, coba lagi dan lagi. Penolakan mesti dimaknai sebagai pemicu kesadaran bahwa tulisan kita tak sempurna atau belum pas dengan karakter media. Maka akan lahir kesadaran untuk terus belajar dan belajar, berlatih dan berlatih. Maka kesediaan untuk memahami mutu dan pasar suatu media menjadi penting.

Andrias menulis buku ini berangkat dari ketidakpuasan buku yang pernah dibacanya, maka ia mampu melahirkan obat ketidakpuasan itu. Terbukti, buku ini jauh lebih mudah dipahami daripada buku Arswendo. Andrias menulis dengan sistematika yang meskipun melompat-lompat dan berulang, namun cukup singkat, praktis, dan sederhana untuk dipahami. Dibaca ditoilet atau di kendaraan pun buku ini masih bisa dimengerti tanpa meninggalkan beban berarti di hati dan pikiran.

Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Penulis : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2002)

Sabtu, 18 April 2009

Wendo Bilang Mengarang Itu Gampang, Kataku TIDAK!



“Jangan hanya membaca. Kalau saat itu sudah mencoba mengarang, pasti lain halnya. Untuk yang terakhir ini saya percaya penuh. Cobalah mengarang sekarang juga, jangan menunggu dua puluh tahun lagi. Jangan menunggu dua hari lagi. Sekarang juga. Tutup buku ini, mulai.”

Begitu tulis Arswendo dalam pengantar edisi kedua buku Mengarang Itu Gampang yang sudah lebih dari 5 kali cetak ulang selama sepuluh tahun sejak 1981 hingga 2001.

Paragraf terakhir Arswendo itu mendorong saya untuk terus memamah isi bukunya. Sebagai penulis pemula, kata-katanya cukup melecut untuk penasaran mengetahui trik dan resep apa yang dipunya seorang maestro agar menulis (baca: mengarang) bisa lebih mudah dan ciamik. Maka saya pun menekuni setiap bab pada buku itu dengan gairah yang menyala.

Buku itu tak terlalu tebal. Hanya 118 halaman. Cukup ringan untuk sebuah buku panduan. Ditulis dengan teknik tanya jawab. Gaya bahasanya juga ringan dan bertutur meski materi bahasannya berat. Wendo tampaknya cukup mahir menjadikan yang berat jadi enteng, yang berkabut menjadi jernih dan terang.
Tapi ada “tapinya”. Saya jadi jenuh saat memasuki lembaran tengah. Semangat dan gairah yang sejak awal saya sulut mendadak meredup dan menghentikan alur baca saya hingga hanya membaca sekilas lalu.

Pada awal bab, Wendo mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa menurutnya mengarang itu gampang. Ada 4 pondasi yang diletakkannya untuk mengatakan menulis itu gampang. Pertama, harus bisa membaca dan menulis. Syarat ini tentu banyak yang bisa memenuhi, tak terlampau sulit.

Kemudian pondasi berikutnya adalah minat dan ambisi yang terus-menerus. Membaca dan menulis yang baik perlu latihan, perlu disiplin, perlu minat yang tak kunjung habis. Minat dan ambisi seperti juga rasa cinta, selalu ada, terus mengalir. Ini didasarkan pada kepercayaan diri, bahwa dengan mengarang kita melakukan sesuatu yang dicintai, dan kita percaya, ada Sesutu yang baik yang akan kita lakukan dengan itu. Wendo benar tentang ini. Rasa cinta memang membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah dan ringan dijalani. Jika sudah ada rasa cinta, maka langkah akan mengalir dengan sendirinya. Semangat ini menjadikan menulis terkesan mudah.

Pondasi sudah diletakkan. Wendo kemudian menuntun memahami bagaimana meramu sebuah ilham sehingga menjadi ide. Diperlukan dua hal yang bisa menjadi kompas: Untuk apa kamu menulis? Apa sebenarnya kemauanmu menulis? Di sinilah peran pandangan penulis terhadap sebuah ilham sangat menentukan. Pada bagian ini penulis bisa memilih ingin menggabung realitas dan imajinasi dengan porsi dan cara bagaimana. Sebagian atau keseluruhan, terserah penulisnya.

Ide yang sudah ada itu hanya akan menjadi sebatas ide jika tak dituliskan. Maka segera saja mulai menulis. Jika belum siap, bisa diawali dengan membuat coretan tentang ide dasar yang ingin dikembangkan. Untuk itu diperlukan pengetahuan tambahan. Maka penulis harus mencari informasi pendukung idenya itu sehingga bahan yang akan diolah makin banyak.

Saya sepakat dengan Wendo. Di era internet ini, mencari bahan pendukung penulisan sudah bukan hal sulit. Cukup tanyakan Paman Google, dan segudang bahan akan tersedia. Hanya tinggal diperlukan kemahiran menguatak-atik bahan dan menyelipkan gagasan kita dalam rangkaian tulisan. Tugas seorang pengarang sebenarnya adalah menggabung-gabungkan hal yang sepertinya tak ada hubungannya menjadi saling terkait. Ini adalah seni menulis kreatif yang merupakan sikap dasar penulis. Kreatif menggabung-gabungkan, seperti menjahit kain perca hingga menjadi lembaran warna-warni yang cantik dan unik berirama.

Sampai tahap ini saya masih cukup mengikuti alur buku ini. Memasuki bahasan berikutnya, saya mulai jenuh. Ini seperti mendapat pelajaran mengarang di sekolah. Beberapa macam jenis plot dipaparkan. Plot dengan ledakan, plot lembut, plot lembut meledak, plot terbuka, plot tertutup, sampai bagaimana mengembangkan plot.
Plot yang sudah didapat, tulis Wendo, harus dikembangkan dengan mencari sebab agar mendapat kesimpulan akibat. Kemudian bagaimana plot ini dikunci dengan penutup dan akhir yang tepat. Selanjutnya diulas bagaimana menghadirkan tokoh, memilih tempat/lokasi cerita dan penggambarannya. Diakhir baru dibahas mengenai tema.
Ini agak janggal, karena tema biasanya justru dibahas diawal sebagai sebuah bagian besar dari rentetan teori sebelumnya. Ini barangkali seperti teori paramida terbalik. Yang besar ada di belakang.

Teori yang coba disederhanakan dengan cara dialog ini memang menjadi terkesan ringan, namun tetap saja membuat kepala penuh teori yang mengesankan mengarang jadi berat dan susah karena banyak aturannya. Bagi penulis pemula, hal ini membuat awal menulis jadi terasa berat sekali. Aturan hanya membuat ide penulisan cupet. Belum-belum sudah dihadang aturan yang menggertak bahwa tulisan yang tidak patuh aturan adalah tulisan buruk.

Tips dan trik yang saya harapkan tidak terlampau terpenuhi sampai halaman ke 65 buku ini. Saya hanya seperti mendapat pengulangan dari pelajaran mengarang saya di sekolah. Pada sisa bab yang ada, penulis memberikan bonus pengetikan dan ejaan yang baik. Ini menjadikan beban untuk memulai tambah berat dipundaki. Baru mau mengawali sudah tambah beban ejaan yang rumit diingat. Mau mulai mengetik saja sudah khawatir ejaan dan bahannya tidak tepat. Materi tambahan ini jika tidak suka bisa dilewatkan saja, karena meski menulis dengan ejaan yang benar itu lebih baik dan penting, namun tugas itu bisa menjadi lebih ringan ketika dibagi dengan editor yang lebih menguasai ilmunya. Tugas penulis adalah menulis.

Bonus lain di bab akhir adalah bagaimana mengirim karangan ke media. Bagaimana antisipasi jika karangan ditolak. Hingga sistem pembayaran honor. Pentingnya membaca karya satra, dan juga beberapa pekerjaan alternatif yang bisa dijadikan sandaran hidup seorang penulis. Walau saya kurang yakin, Wendo tetap keukeuh menyakinkan untuk percaya bahwa mengarang itu gampang. Tinggal menjajal dan membuktikannya. Percaya bahwa mengarang itu pekerjaan terhormat, tidak kalah dan tidak lebih daripada profesi-profsi lain.

Buku ini adalah buku yang cukup legendaris pada era 80an. Ketika itu menulis masih belum dianggap pekerjaan menjanjikan. Sehingga kehadiran buku ini cukup membantu sebagai panduan bagi mereka yang ingin mulai menekuni dunia tulis menulis. Nama besar seorang Arswendo mempengaruhi larisnya buku ini di pasaran. Saya pribadi sebagai penulis pemula, melihat buku ini lebih sebagai panduan menulis dengan baik, bukan sebuah buku yang memberikan tips dan trik menulis sehingga menjadi mudah.

Alasan kecintaan pada profesi memang bisa membantu beban menjadi ringan, namun untuk menjadikannya mudah butuh panduan dan penjelasan yang mudah dimengerti pula. Buku ini tidak cukup mengakomodir itu. Gaya penulisannya memang ringan, namun topik bahasannya berat. Contoh-contoh buku yang dihadirkan pun cenderung jarang dikenal. Sebut saja The Social Construction of Reality-nya peter l berger dan Thomas Luckman, Little House on the Priere-nya Laura Ingall Wilder, Untung Suropati-nya Abdul Muis, dan sebagainya. Bagi yang tidak pernah membaca buku ini akan sulit sekali menangkap penggambaran yang dimaksudkan penulis.

Terlepas dari kekurangan dan kelemahannya, buku ini layak menjadi referensi bacaan dan panduan bagi mereka yang telah rajin menulis, telah menemukan menulis sebagai sebuah aktivitas yang penuh disiplin dan ingin mengembangkan kemampuannya sehingga tulisannya lebih bernas.

Pada akhirnya mengarang tidak menjadi lebih gampang setelah membaca buku bertabur teori ini. (Diana AV Sasa)

Rabu, 28 Januari 2009

Pledoi Sejarah Kebudayan Indonesia


"Sejarah senyap adalah sebuah metode dan usaha menggali kuburan ingatan kolektif dari persemayaman yang dipaksakan; sebuah ikhtiar mencabuti kembali patok-patok nisan tanpa nama dan mendengarkan tutur dari alam kubur kebudayaan Indonesia tentang apa yang sesungguhnya terjadi"

Emboss palu-arit tercetak samar di kertas putih bersih itu menghadirkan kembali rasa getir trauma masa lalu. Judul dengan warna merah menyala di samping logo penerbit bak darah mengalir, mengingatkan pada betapa banyak darah tertumpah yang menjadi tumbal gambar itu.

Desain sampul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965 yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan ini dibuat jelas bukan tanpa alasan. Selain peraturan pelarangan gambar itu masih belum dicabut, Lekra (Lembaga kebudayaan Rakyat) dalam sejarah memang selalu berada dalam bayang-bayang partai berlambang dua benda tajam senjata kaum tani itu, PKI (Partai Komunis Indonesia). Jika Lekra maka PKI, karena PKI maka (pasti) jahat, kejam, sadis, dan layak digorok. Sebuah peng-gebyah uyahan-yang keblinger berpuluh tahun.

Rhoma dan Muhidin adalah dua orang muda yang usianya belum juga genap 30, tapi kepeduliannya pada dokumentasi sejarah bangsa begitu besar. Rhoma adalah periset muda yang telah melahirkan pelbagai karya sejarah seperti Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007), Seabad Pers Perempuan (1908-2008), Almanak Partai Politik Indonesia, dan Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia (1908-2008). Muhidin adalah penulis muda yang namanya wira-wiri di media nasional dan telah melahirkan berpuluh buku sastra maupun esai. Dialah pemimpin riset Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia yg ditulis 25 penulis muda yang usianya masih di bawah 25 tahun. Mereka berdua ini selama 17 bulan dengan getih menyusuri kembali lembar demi lembar Harian Rakjat dalam lembab almari perpustakaan sunyi di pusat kota Jogjakarta dengan satu semangat: selamatkan aset sejarah sebelum kalah dengan rayap!

Sebanyak 15 ribu artikel budaya Harian Rakjat dalam ejaan lawas dan tulisan kecil-kecil mereka baca dengan tekun, mereka catat bagian-bagian pentingnya (karena tidak boleh menggunting apa lagi menfotokopi karena merusak kertas yang sudah rapuh itu), untuk kemudian menuliskannya kembali dengan beberapa tambahan intepretasi. Mereka menyuguhkan dengan apa adanya peristiwa-peristiwa kebudayaan yang terjadi sepanjang rentang waktu revolusi 1950-1965. Fakta demi fakta diuraikan. Dan hasilnya: Lekra tak hanya mengurusi soal sastra yang selalu diperdebatkan dengan Manikebu, tapi juga film, musik, seni tari, seni pertunjukan (ketoprak, wayang, ludruk, drama, reog), buku, pers, dan kebudayaan secara umum.

Buku ini, meski disebut sebagai “buku putih”, tapi bukanlah sebuah pledoi buta terhadap Lekra. Ia adalah ikhtiar memberi kesempatan bagi mereka untuk berbicara apa sesungguhnya yang telah mereka lakukan semasa kurun 15 tahun yang bergemuruh itu.
Jika boleh disandingkan, buku ini adalah jawaban paling serius dari Prahara Budaya: Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI yang disusun DS Moeljanto (DSM) dan Taufik Ismail (TI) sekira tahun 1995 silam.

TI dalam pengantarnya mengatakan bahwa Prahara Budaya disusun dengan ketulusan hati ingin meluruskan sejarah. Buku itu ditujukan bagi pembaca muda yang tak mengalami peristiwa tersebut. Sementara Muhidin dan Rhoma dalam pengantarnya mengatakan bahwa Lekra Tak Membakar Buku ditujukan untuk mengingat kembali peran Lekra dalam kebudayaan Indonesia pada masa itu dengan apa adanya agar generasi yang tak mengalami peristiwa tersebut memperoleh informasi sejarah yang berimbang.

Jika Prahara Budaya bersampul “merah” itu disusun oleh dua budayawan lanjut usia (baca: tua) yang sangat antipati terhadap Lekra, maka buku ini disusun dua orang muda enerjik dari masa yang sudah sangat jauh berbeda tatkala Lekra berdiri kukuh. Meski ketebalan hanya berbeda kurang dari 60 halaman, tapi perbedaan di antara keduanya terlihat prinsipil.

Dalam Prahara Budaya, tak jelas disebutkan posisi DSM dan TI sebagai apa selain nama mereka tercantum disampul—mungkin lebih tepat jika disebut editor jika bukan kolektor—dari kliping koran, majalah, dan makalah kebudayaan di seputar tahun 60-an. Dokumen-dokumen itu disajikan mentah, sedikit pengantar dan komentar di bawah, yang kadang tak ada kaitannya dengan bahasan di atasnya, dan perubahan judul (tanpa penjelasan mengapa diubah dari aslinya) di sana sini.

Tulisan pengantar yang dibuat TI pun lebih banyak mengungkap ketaksetujuannya atas dasar iman dan pengalaman subjektif; tak terungkap argumen yang sifatnya ilmiah. Sistematika penyusunan dan kronologi peristiwanya juga tak tertata dengan baik. Sehingga buku ini sangat jauh dari ilmiah—lebih tepat disebut buku pembunuhan telak Lekra. Lebih banyak menyajikan konflik, saling tuduh, saling tuding, dan maki bak prahara seperti judulnya. Hasilnya: Lekra adalah organ kebudayaan kaum preman yang tak berotak, tukang keroyok, dan pembuat onar panggung kebudayaan.

Sementara Lekra Tak Membakar Buku, dihadirkan dengan sistematika dan kronologi yang runtut. Mulai dari apa dan bagaimana Lekra, riwayat Harian Rakjat, dan satu demi satu diuraikan bagaimana kerja Lekra dalam sastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, buku dan penerbitan. Melalui riset mendalam (seperti yang selalu diajarkan seniman organik Lekra), sepak-terjang seniman dan pekerja budaya Lekra menghalau serangan imperialisme budaya dan modal yang bersekutu dengan kekuatan feodalisme lokal diulas ulang. Sambil sesekali memasukkan kutipan-kutipan dari sumber asli disertai catatan rujukannya. Juga dilampirkan keterangan akronim, berikut data-data hasil rapat, susunan pengurus, anggota pimpinan pusat, pengumuman, dan keputusan-keputusan penting Lekra dari rapat-rapatnya.

Dalam “panggung” Lekra Tak membakar Buku ini, terungkap banyak realitas menarik yang banyak tak diketahui publik. Di antaranya adalah instruksi pada semua utusan Kongres I Lekra dari seluruh cabang di Indonesia pada Januari 1959 agar tak hanya membawa bahan untuk diperdebatkan, tetapi juga membawa alat musik, mainan anak-anak, kerajinan tangan, pakaian daerah, cerita-cerita, ornamen-ornamen, penerbitan, dan lagu-lagu daerah masing-masing. Semua itu digelar dalam sebuah bazar besar sehari sebelum hingga kongres berakhir. Pengunjung pameran mencapai 15000/malam; sebuah jumlah yang tak kecil pada masa itu.

Tak sekadar memajangnya, mereka juga mematok program untuk menginventariasi kekayaan-kekayaan cipta budaya Nusantara yang terserak ribuan jumlahnya itu sehingga tak dicaplok bangsa lain seperti kasus lagu Rasa Sayange beberapa waktu lalu.
Seniman-seniman Lekra juga giat menyerukan agar pemerintah memperkeras sikap dengan gambar-gambar dan lukisan cabul dalam bentuk dan kegunaan apa pun seperti ilustrasi, poster, dekor, ornamen, tekstil, dan sebagainya. Kita tak perlu ribut dengan kontroversi RUU pornografi hari ini jika saja mendengarakan apa kata seniman Lekra puluhan tahun silam.

Lekra tak membiarkan anggotanya menempuh jalan kebudayaan dengan ugal-ugalan. Setiap seniman mesti bertanggung jawab pada rakyat yang menjadi basis dayaciptanya. Lekra juga menekankan agar dalam proses mencipta (seperti sastra) selalu melalui riset ilmiah bukan ongkang-ongkang kaki sambil merokok dan menenggak alkohol. Sikap Lekra Jelas di sini bagaimana Lekra berpihak dalam peran budayanya dengan memundaki tiga asas: bekerja baik, belajar baik, dan bermoral baik.

Lekra Tak Membakar Buku adalah sebuah pembelaan atas tuduhan yang sering dilontarkan “lawan” budayanya pada masa itu. Salah satunya adalah bahwa Lekra organ budaya pembakar buku. Buku ini bersikap jelas dan tegas: TIDAK! Lekra percaya bahwa buku mampu mengubah dunia, tapi tidak sembarang buku. Buku yang mampu “mengubah” adalah buku yang isinya digali langsung dari perikehidupan rakyat melalui gerakan turun ke bawah dan bukan mimpi-mimpi kosong yang melulu menjual kepalsuan hidup dari kamar salon. Lekra memang melakukan “teror” atas buku-buku penandatangan Manikebu dan juga pentolan-pentolan Masjumi dan PSI yang terlarang. Tapi Rhoma dan Muhidin ini memberi dalih bahwa tak ada bukti Lekra mengorganisasi pembakaran buku yang mereka tak sukai yang kemudian menjadi judul bagi buku ini.

Terlepas dari beberapa kesalahan ketik di sana sini, buku ini adalah dokumen sejarah yang disusun anak muda generasi sekarang dengan “semangat ilmu pengetahuan” dan keseriusan di atas rata-rata. Muhidin dan Rhoma menasbihkan buku ini sebagai sebuah dokumen sejarah kebudayaan kita yang hilang dan terputus atas nama dendam politik yang terus diwariskan pada generasi muda.

KETIKA CATATAN SEJARAH DIBINGKAI ROMANTISME


Melihat kepiawaiannya mengaduk-aduk emosi pembaca melalui alur cerita yang runtut dan mengugah dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) –yang ditulis dengan gaya tutur roman-, menilik ketekunan dan kegigihannya dalam menyunting dan menyusun pelbagai sumber sejarah hingga menjadi karya Sang Pemula dan Panggil Aku Kartini Saja-yang merupakan karya non fiksi-, maka buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels nampaknya merupakan sebuah karya yang disusun untuk menggabungkan gaya keduanya tapi justru kehilangan arah penulisan yang jelas.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, demikian judul yang tertera di sampul depan dengan ilustrasi sebuah latar belakang aktivitas kerja rodi, sebuah peta, dan seorang kumpeni menaiki kuda. Pada ringkasan disampul belakang dan pengantar penerbit di awal tulisan -entah mengapa tak ada pengantar penulis seperti pada karya-karya Pram yang lain- melalui Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini,Pram ingin menuturkan kembali sisi paling kelam pembangunan jalan yang beraspalkan darah dan airmata manusia Pribumi itu. Sebuah upaya memberikan sumbangan catatan sejarah pada dunia dengan menjahit-jahit serangkaian catatan perjalanan, beberapa hasil wawancara singkat, buku dan jurnal sejarah, ensiklopedi, serta beberapa surat kabar. Judul yang mengusik ingatan dan pengantar yang satir ini membuat keinginan untuk segera mengetahui fakta-fakta sejarah yang akan dituturkan serasa menyeruak begitu besar.

Diawali dengan sub judul Blora-Rembang, Pram mencoba memberikan sebuah gambaran ringkas mengenai Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels. Jalan yang membentang sejauh 1000km dari Anyer sampai Panarukan ini dibangun pada 1809 oleh Maarschalk en Gouverneur General Mr. Herman Willem Daendels melalui penjatahan pada para bupati yang wilayahnya dilalui jalan ini. Sebenarnya Daendels tidak sepenuhnya membangun, pada beberapa ruas, dia hanya sekedar melebarkan karena jalan itu sudah ada sejak jaman kerajaan Majapahit. Selama masa pembangunan itu, ribuan nyawa warga pribumi melayang karena kelelahan,kelaparan, dan terserang malaria. Di bagian ini Pram juga menuliskan kenangan masa kecilnya seputar kota Blora-Rembang dan pengetahuan awalnya semasa sekolah mengenai jalan Daendels.

Kemudian dilanjutkan dengan sub bab Lasem, Pram mengulas lebih banyak-masih secara umum- tentang sejarah kebesaran kota Lasem, fakta-fakta mengenai Daendels-mulai dari ikhwal kedatangannya ke Indonesia yang tanpa dokumen, fakta bahwa dia adalah utusan negara Perancis yang sedang menguasai Belanda, sampai caranya memimpin yang kasar dan serampangan-,gagasan awal mengapa Jalan Raya Pos dibangun, berikut tahap pembangunannya. Setelah itu kemudian dilanjutkan dengan sub bab Anyer. Bab ini lebih banyak mengulas mengenai kedatangan awal Daendels ke Jawa. Dilanjutkan kemudian dengan sub bab Cilegon, Banten, serang, dan kota-kota lain yang dilalui jalan Daendels sampai Panarukan. Tidak jelas mengapa pembagian bab dimulai dari Blora dan bukan Anyer seperti mula jalan ini berujung. Karena disebutkan diawal bahwa ini adalah sebuah catatan perjalanan, barangkali perjalanan itu dimulai dari Blora. Tidak jelas kemudian dilanjutkan kemana setelahnya. Hal ini membuat kerancuan pengertian karena pada tiap bab itu tidak semuanya membahas tentang jalan Daendels secara mendalam. Ada yang hanya sekedar catatan sejarah yang berhasil diingat(dihimpun?) penulis, ada juga yang sekedar penjelasan letak geografis secara umum (sekian kilometer ke utara/barat/timur dll). Semestinya, pembahasan mengenai Blora, Rembang, dan Lasem yang panjang lebar itu tidak berada di awal, melainkan di tengah, tepat ketika membahas jalan yang melalui kota itu. Ini lah kelemahan awal buku ini.

Buku setebal 148 halaman dengan ukuran 13 x 20cm ini disusun dengan tipografi dan layout yang tepat. Pemilihan jenis huruf, ukuran huruf, jarak tiap baris, hingga jumlah baris pada tiap halaman nampak diperhitungkan betul sehingga memunculkan irama membaca yang tidak memerlukan kening berkerut atau mata menyipit. Cara bertutur Pram dalam karya ini juga sangat mudah dipahami, dan sebagai sebuah catatan sejarah, buku ini tidak terlalu berat untuk dibaca, bahkan bisa dibaca saat santai atau menjelang tidur. Pram mengajak ingatan pembaca untuk melompat-lompat pada beberapa peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kota-kota yang di lalui jalan Daendels itu. Kemudian sesekali di giring pada pengalaman pribadinya di kota itu. Terkadang Pram juga menyisipkan informasi ’unik’ yang tak ada hubungannya dengan bahasan, seperti bahwa Matahari,mata-mata yang terkenal itu ternyata lahir di Priangan(anda pasti bingung jika tak pernah tau siapa itu Matahari). Jika tidak terlalu serius, maka tak ada masalah dengan buku ini, tapi jika kita sedang serius dan ingin menggali data lebih banyak mengenai jalan Daendels, maka ’lompatan-lompatan’ itu akan sangat mengganggu konsistensi perunutan.

Pada halaman akhir dilampirkan beberapa sumber tulisan, sehingga nampak bahwa karya ini ilmiah. Akan tetapi sumber itu tidak benar-benar dirujuk, hanya sekedar dicantumkan saja. Jadi tidak jelas pada bagian mana sumber itu memberi kontribusi pada tulisan di dalam buku. Tidak ada foot note, apa lagi referensi. Sehingga, jika kita ingin menggali data lebih banyak, kita harus membaca sumber data itu lebih jauh-yang mayoritas berbahasa asing.

Ada juga dilampirkan sebuah peta kuno, tapi tak banyak membantu karena nyaris tak terbaca. Ketika mencoba merunutkan jalur jalan itu pada peta modern, terjadi kebingungan ketika menemukan beberapa persimpangan jalan alternatif. Jadi tidak ada gambaran jelas, apakah jalan itu masih ada menginggat perubahan luas wilayah selama kurang lebih 2 abad itu cukup signifikan. Kota-kota seperti Anyer, Lasem,Surabaya adalah kota yang paling banyak berubah. Karena bencana, karena kondisi alam, atau juga karena pembangunan. Di Surabaya misalnya, tidak jelas yang mana Jalan Daendels yang menghubungkan Tambak langon-Gresik-Surabaya dan Sidoarjo itu, karena memang saat ini ada beberapa jalur yang menghubungkan. Ketika disebut Wonokromo, semakin bingung dibuatnya, karena Wonokromo kini telah menjadi bagian dari Surabaya dan Tambaklangun masuk wilayah Gresik. Tidak ada informasi akurat mengenai hal ini. Demikian pula dengan jalur Tuban-Gresik. Ada dua jalur yang bisa ditempuh, dan jika merunut info dari Pram, maka jalurnya bukanlah jalan yang sering dilalui jalur trayek kendaraan umum, melainkan jalur alternatif yang melalui tanjung kodok (itu jika persepsi dan pemahaman saya benar). Ketidakjelasan ini dikarenakan, semakin kebelakang, bahasan dari tiap bab semakin seadanya,informasi mengenai jalan Daendels juga minim, lebih banyak sejarah secara umum tentang kota itu, seakan hanya apa yang terlintas di ingatan saja yang diungkapkan. Kisah genosida yang sejak awal didengungkan, tidak banyak diungkap pada bagian-bagian akhir. Hanya secuil informasi diawal-awal penulisan bahwa pada beberapa ruas, terjadi kematian pekerja besar-besaran karena kelelahan,kelaparan, dan juga karena serangan Malaria. Bupati-bupati yang tidak dapat memenuhi target pembangunan, kepalanya dipenggal dan digantung di atas pohon sepanjang jalan. Juga kekejaman Daendels dalam memaksa rakyat pribumi menyerahkan tanahnya untuk dijadikan jalan tanpa kompensasi dan kewajiban mereka untuk turut membangun,melebarkan,meninggikan jalan di wilayahnya. Sebagai referensi sejarah, yang di dedikasikan pada dunia, kelemahan detil informasi ini bisa vital karena menyangkut informasi yang akan disampaikan pada generasi mendatang.

Dengan sebuah kalimat “saya tidak pernah berjalan diatas bumi Panarukan” Pram mengakhiri penuturannya. Sebuah akhiran yang semakin membuat rancu ketika karya ini sering disebut-dan dinyatakan sendiri oleh penyusun- sebagai catatan perjalanan.
Jika catatan perjalanan, maka perjalanan dari mana ke mana. Dari Blora ke Rembang atau Lasem? Jakarta- Bogor? Anyer-Bandung? Jakarta-Surabaya? Tidak jelas. Jika yang dimaksudkan adalah perjalanan hidup Pram, maka buku ini tengah kesulitan mencari genrenya.

Terlepas dari segala kelemahan tersebut, karya Pram ini-jika benar ini adalah karya Pram dan bukan sekedar serpihan catatan Pram yang dipadukan dengan beberapa sumber- telah memberikan masukan sejarah yang berharga bagi negeri ini. Karena memang tak banyak yang peduli pada sejarah yang tlah terlupakan. Dan Pram adalah satu diantara yang tidak banyak itu. Apresiasi tetap kita berikan karena harus diakui,ini mungkin satu-satunya sumber yang membahas mengenai jalan ini dalam bahasa Indonesia. Lagipula Jalan Raya Pos,Jalan Daendels memang bukan catatan sejarah yang serius seperti Sang Pemula, ini hanya sebuah catatan dari sekumpulan data sejarah dan romantisme perjalanan. Informasinya juga sudah cukup layak untuk dijadikan pengingat tentang kebesaran dan sejarah kota-kota yang dilaluinya. Hendaknya buku ini menjadi pijakan awal bagi generasi selanjutnya untuk menyusun literasi yang lebih komprehensif, terstruktur baik, dan ilmiah mengenai Jalan Raya Pos, Jalan Daendels. Sebuah jalan yang telah membawa pengaruh perubahan besar di sektor ekonomi, budaya, dan sosial bangsa ini hingga sekarang. Sehingga nanti akan ada sebuah literasi sejarah yang bisa lebih layak untuk dijadikan referensi pelajaran sejarah formal yang selama ini hanya berpaku pada satu sumber. Maka anak cucu kita akan mendapat informasi yang tepat mengenai sejarah bangsanya. Dan tidak sekali-sekali melupakannya.

Rabu, 22 Oktober 2008

THE RULES OF LIFE : Agar Tak Sekedar Menjadi Mayat Hidup


JUDUL : THE RULES OF LIFE: Aturan Pribadi Untuk Hidup Lebih Baik, Bahagia, Dan Sukses.

Penulis : Richard Templar

Penejemah : Sigit Purwanto

Cetak : 2008

Tebal : 226 + Xiii

Penerbit : Esensi, Erlangga

Bahagiakah anda menjalani hidup ini? Apakah anda merasa bingung menentukan arah hidup? Apakah anda gagal dan sulit memaafkan kesalahan diri sendiri? Apakah anda memendam dendam? Apakah hidup anda membosankan? Apakah anda sedang putus asa? Apakah anda tidak betah dirumah? Apakah anda dijauhi rekan kantor? Apakah anda merasa tak berati?

Jika anda menjawab lebih dari dua rentetan pertanyaan diatas denagn jawaban YA, maka anda perlu untuk segera membaca buku THE RULES OF LIFE karya Richard Templar ini. Seperti halnya sub judul yang tertera, Rules of Life adalah sebuah aturan pribadi untuk hidup lebih baik, bahagia, dan sukses. Berisi 50 ‘aturan-aturan’ untuk diri anda, 16 aturan berpasangan,13 aturan keluarga dan teman, 13 aturan social, dan 8 aturan dunia, Richard ingin membantu anda untuk mengingat kembali tujuan hidup anda dan merumuskannya dengan sederhana,jelas, dan dapat diwujudkan.

Richard menulis, banyak orang yangmenjalani kehidupan dengan sukses, bahagia, penuh kesyukuran, dan dapat mencapai banyak hal. Banyak pula yang merasa tidak bahagia, kehilangan sesuatu dalam dirinya, dan menghabiskan waktu untuk menunggu keajaiban yang memberinya inspirasi. Sebenarnya perubahan hanya masalah kemauan untuk melakukan sedikit perubahan kecil pada perilaku kita. Kebahagaiaan dan kebermaknaan hidup tentu dapat diwujudkan. Memang sulit, tapi sebenarnya begitu sederhana dan dapat dicapai. Tinggal seberapa besar kemauan kita untuk mejadikannya wujud.

Sebelum merumuskan langkah-langkah untuk menjadikan hidup bermakna dan kita bahagia menjalaninya, kita harus mengetahui makna kebahagiaan bagi diri kita masing-masing. Apakah hal-hal yang membuat kita bahagia? Apakah melakukan hal-hal yang buruk membuat kita benar-benar bahagia? Kita harus bisa menemukan kebahagiaan kita sendiri karena hanya kita yang paling tahu diri kita sendiri. Setelah itu kemudian kita diingatkan untuk selalu mendedikasikan hidup kita untuk sesuatu. Terserah anda, apapun itu,asal baik menurut anda, dan membuat anda ingin mencapainya. Dari sini kita jadi jadi tahu kemana arah tujuan hidup ini akan kita bawa. Setelah itu kita akan menentukan standard kehidupan. Apakah kita cukup bahagia jika yang tercapai hanya30%? Ataukah kita baru bahagia jika semua tujuan itu tergapai. Masing-masing orang mempunyai standar berbeda. Standard ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan setiap langkah yang nanti akan kita rumuskan.

Richard kemudian menggiring kita pada 50 aturan kehidupan yang membantu kita untuk memilah-milah dan menentukan mana yang baik, mana yang buruk. Mana yang akan kita ambil mana yang akan kita buang. Mana yang akan kita ikuti mana yang akan kita tinggalkan. 50 aturan memang banyak, dan kita bukan malaikat yang akan mampu sempurna menjalankan/mematuhi aturan tersebut. Kita bisa memilihnya sesuai dengan kondisi yang kita hadapi. Catat baik-baik dan jadikan pengingat setiap kali kita mengalami hal yang sama. Dari sini kita akan menemukan identitas diri sesuai dengan yang kita kehendaki tanpa mengabaikan kemungkinan lain diluar kita yang mungkin bertentangan. Selalu ada cara untuk menghadapi lawan secara bijaksana, dan Richard memberikan beberapa tipsnya disini.

Bagi anda yang mempunyai masalah dengan pasangan, Richard memberikan 16 aturan mendasar yang mungkin bisa membantu anda memperbaiki hubungan. Richard memberikan paparan sederhana dan menuliskan kunci penting dari dua orang yang berbeda dan tentu saja memiliki aturan kehidupan yang berbeda pula. Seperti banyak ahli katakan, menghormati dan menjaga privasi pasangan adalah kunci penting. Memberi kesempatan pasangan untuk menjadi diri sendiri, bersikap baik, meminta maaf lebih dulu, berusaha lebih keras untuk membahagiakannya, serta mngetahui kapan harus bicara dan kapan harus mendengar adalah beberapa aturan yang mesti kita jadikan evaluasi hubungan kita. Jika masih tidak ketemu, maka review ulang tujuan bersama perlu dilakukan. Dari sini anda akan bias merumuskan langkah-langkah yang perlu anda lakukan bersama pasangan untuk mewujudkan tujuan hidup anda.

Lebih luas lagi, Richard memandu kita untuk melihat lagi kualitas hubungan kita dalam keluarga dan teman-teman kita. Kita diajak membuat garis sendiri bagi target yang telah kita tentukan diawal. Mana aturan yang akan kita ambil dalam menjalin relasi perkawanan dan keluarga, Richard memberikan 13 aturan utama. Anda akan dingatkan bagaimana anda bersikap sebagai orang tua pada anak dan sebagai anak kepada orang tua. Keduanya mempunyai relasi yang berbeda. Kita akan bisa melihat bagaimana akibat yang ditimbulkan oleh tujuan hidup kita terhadap keluarga dan kawan-kawan kita.

Setelah dapat memilih aturan untuk bergaul dalam keluarga dan teman, lebih luas lagi kita akan dipandu memilih aturan dalam bergaul di lingkungan sosial yg lebih luas lagi. Richard mengingatkan hal-hal yang akan membantu kita mencapai tujuan hidup, dan hal-hal yang justru akan mengganggunya. Kita juga diajarkan untuk memikirkan manfaat tujuan hidup kita itu bagi mereka. Kita mesti memikirkan efek jangka panjang dari tujuan hidup kita itu, juga langkah-langkah yang telah kita rumuskan diawal, sehingga kita akan terdorong untuk selalu berpikir dan bersikap baik dengan moral yang tinggi karena rasa tangung jawab social itu.

Terakhir, Richard mengajak kita membuka mata lebih lebar, melihat akibat yang ditimbulkan bagi dunia dari tujuan hidup, langkah untuk mencapainya,serta pilihan aturan yang telah kita tentukan untuk kita ikuti diatas. Kita mesti mempertimbangkan bagaimana sejarah akan mencatat kita. Sebagai orang baik yang bermanfaat bagi keluarga, teman, lingkungan social, dan bahkan dunia, atau justru sebaliknya, merusak. Kita harus memikirkan kehidupan kita jika kita ingin berhasil dalam hidup ini. Kehidupan ini mesti diberi makna dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga kita diatas bumi ini menjalani kehidupan dengan hikmat, bukan sekedar mayat hidup yang menjalankan takdir kehidupan tanpa upaya. Hidup harus bermakna!

COMMENT : Buku ini sesuai untuk motivasi diri. Disajikan dengan lay out yang sederhana, mudah diingat, dan ringkas. Kita bisa membukanya sewaktu waktu, di sembarang halaman, membaca sebagian dan akan menemukan sebuah inspirasi. Atau sekedar membaca kalimat-kalimat penting yang dicetak khusus dalam kotak insert, untuk mengingatkan kita ketika lemah motivasi dan butuh semangat untuk memulai/bangkit lagi dari keterpurukan kecil. Buku ini bukan sekedar chicken soup, it is a complete breakfast.